Penguatan Keselamatan Rumah Tangga melalui Program SIGAP GAS (Siaga Mengantisipasi Bahaya Gas) di Desa Pasuluhan
DOI:
https://doi.org/10.68321/kwdq4n20Keywords:
Program SIGAP GAS; kebocoran gas LPG; keselamatan rumah tangga; SDG 3.Abstract
Keselamatan rumah tangga merupakan salah satu prasyarat penting dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan sebagaimana diamanatkan dalam Sustainable Development Goal (SDG) 3: kehidupan sehat dan sejahtera. Namun, penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) sebagai sumber energi utama rumah tangga masih menyimpan risiko tinggi terhadap kebocoran gas yang dapat memicu kebakaran, ledakan, keracunan, hingga korban jiwa apabila tidak disertai dengan pengetahuan dan keterampilan mitigasi yang memadai. Rendahnya literasi masyarakat mengenai penggunaan LPG yang aman menjadikan risiko tersebut semakin besar, terutama di lingkungan permukiman padat. Di Desa Pasuluhan, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, sebagian masyarakat belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai penyebab kebocoran gas, tanda-tanda awal kebocoran, langkah penanganan darurat, serta praktik penggunaan tabung LPG yang aman. Kondisi ini menunjukkan perlunya program edukasi yang mampu meningkatkan kesadaran sekaligus membangun budaya keselamatan rumah tangga. Sebagai upaya preventif, dilaksanakan Program SIGAP GAS (Siaga Mengantisipasi Bahaya Gas) yang bertujuan memperkuat pengetahuan, sikap, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam mencegah serta menangani risiko kebocoran gas rumah tangga. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) melalui tahapan identifikasi kebutuhan, perencanaan partisipatif, pelaksanaan edukasi dan simulasi penanganan kebocoran gas, serta evaluasi dan refleksi bersama masyarakat. Program melibatkan warga Desa Pasuluhan dengan dukungan pemerintah desa. Hasil kegiatan menunjukkan meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai penggunaan LPG yang aman, kemampuan mengenali potensi kebocoran gas, serta kesiapsiagaan dalam melakukan tindakan awal ketika terjadi keadaan darurat. Selain itu, program berhasil menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya budaya keselamatan rumah tangga sebagai bagian dari upaya pencegahan risiko bencana domestik. Dengan demikian, Program SIGAP GAS menjadi model edukasi preventif yang efektif dalam memperkuat keselamatan rumah tangga, meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mitigasi risiko kebocoran gas, serta mendukung pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera.
References
[1] M. Iqbal, E. Basuno, and G. S. Budhi, “Esensi dan urgensi kaji tindak partisipatif dalam pemberdayaan masyarakat perdesaan berbasis sumberdaya pertanian,” Forum Penelitian Agro Ekonomi, 2023.
[2] S. Darnoto, D. Astuti, R. P. Kinasih, and L. P. Cindana, “Edukasi keselamatan penggunaan tabung gas LPG dalam rumah tangga,” Jurnal Inovasi dan Pengabdian Masyarakat Indonesia, vol. 2, no. 2, 2023, doi: 10.26714/jipmi.v2i2.64.
[3] M. Mara, I. G. B. Susana, I. B. Alit, I. G. A. K. Chatur Adhi W. A., and M. Wirawan, “Penyuluhan pencegahan bahaya kebakaran penggunaan kompor gas LPG rumah tangga,” Jurnal Karya Pengabdian, vol. 5, no. 1, pp. 9–15, 2023, doi: 10.29303/jkp.v5i1.146.
[4] Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, “Aman menggunakan tabung LPG untuk rumah tangga,” Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, 2010.
[5] M. P. Maulana and R. P. Astutik, “Pengembangan sistem peringatan dini kebocoran gas LPG untuk peningkatan keamanan rumah tangga berbasis ESP32,” Jurnal Informatika dan Teknik Elektro Terapan, vol. 12, no. 3, 2024, doi: 10.23960/jitet.v12i3.4818.
[6] S. Rif’ah and A. N. Ilma, “Jagung Betiring: Pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal dengan metode Participatory Action Research (PAR),” Participatory: Jurnal Pengabdian Masyarakat, vol. 1, no. 2, pp. 95–107, 2022.
