Pemanfaatan Lahan Sekolah Melalui Penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Sebagai Upaya Edukasi Kesehatan Mandiri Di SMKN 6 KOTA SERANG
DOI:
https://doi.org/10.68321/fyjzqs08Kata Kunci:
Pemanfaatan lahan sekolah; tanaman obat keluarga; edukasi kesehatan; kesehatan mandiriAbstrak
Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memanfaatkan lahan sekolah melalui pembentukan kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai media edukasi kesehatan mandiri di SMKN 6 Kota Serang. Program dilaksanakan oleh mahasiswa KKM Universitas Bina Bangsa di Kelurahan Mesjid Priyayi menggunakan pendekatan deskriptif partisipatif. Kegiatan mencakup observasi lokasi, persiapan tanaman dan wadah, penanaman, penataan, pelabelan, serta edukasi mengenai identitas, manfaat dasar, perawatan, dan penggunaan tanaman obat secara aman. Data diperoleh melalui observasi lapangan, dokumentasi, dan refleksi bersama. Kegiatan mengubah lahan yang belum dimanfaatkan optimal menjadi ruang belajar kontekstual sekaligus mendorong keterlibatan siswa dalam pemeliharaan lingkungan. Label tanaman menghubungkan objek botani dengan informasi kesehatan, sedangkan praktik menanam mendukung pembelajaran berbasis pengalaman dan tanggung jawab bersama. Program menegaskan bahwa tanaman obat mendukung kesehatan mandiri secara terinformasi dan tidak menggantikan diagnosis atau terapi tenaga kesehatan. Pemeliharaan berkelanjutan, pendampingan guru, dan integrasi dengan proyek sekolah diperlukan untuk menjaga fungsi kebun TOGA.
Referensi
[1] Atmojo, M., & Darumurti, A. (2021). Pemberdayaan masyarakat melalui tanaman obat
keluarga (TOGA). Abdimas BSI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat,
4(1). https://doi.org/10.31294/jabdimas.v4i1.8660
Ekasari, R., et al. (2024). Pemberdayaan pada siswa SMK BAZNAS melalui budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA). MITRA: Jurnal Pemberdayaan
Masyarakat.
https://ejournal.atmajaya.ac.id/index.php/mitra/article/vie w/4685
[2] Febrianti, A., et al. (2025). Pemberdayaan siswa sekolah dasar melalui program apotek hidup di lingkungan sekolah. Indonesian Community Mandiri.
https://ejournal.icmandiri.com/index.php/ICM/article/vie w/217
[3] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2016 tentang upaya pengembangan kesehatan tradisional melalui asuhan mandiri pemanfaatan taman obat keluarga dan keterampilan.
[4] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Petunjuk praktis asuhan mandiri pemanfaatan TOGA dan akupresur (Edisi 2). https://repository.kemkes.go.id/book/25
[5] Kurochman, S. S. N., et al. (2023). Pemanfaatan
tanaman obat keluarga sebagai upaya peningkatan kesehatan mandiri masyarakat. I-Com: Indonesian
CommunityJournal. https://ejournal.uniramalang.ac.id/icom/id/article/view/3185
[6] Nurcahyo, E., Azhara, W., Keken, K., Pangibi, A. A., & Goy, A. (2022). Pemberdayaan masyarakat melalui budidaya tanaman obat keluarga (TOGA) di Kelurahan Saragi, Kabupaten Buton. SWARNA, 1(2), 120-125.
https://doi.org/10.55681/swarna.v1i2.76
[7] Puspitasari, I., Sari, G. N. F., & Indrayati, A. (2021). Pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) sebagai alternatif pengobatan mandiri. Warta LPM, 24(3).
https://journals.ums.ac.id/index.php/warta/article/view/11111
[8] Santi, F., et al. (2023). Edukasi tanaman obat keluarga (TOGA) bagi anak sebagai penguatan literasi kesehatan. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Nusantara.
https://ejournal.sisfokomtek.org/index.php/jpkm/article/vi ew/807
[9] Susiloningrum, D., et al. (2023). CINTOLUNI (Cinta Tanaman Obat Keluarga Sejak Dini) pada siswa sekolah dasar. SWARNA, 2(6), 702-705.
https://doi.org/10.55681/swarna.v2i6.656
[10] World Health Organization. (2023). Integrating traditional medicine in health care.
https://www.who.int/southeastasia/news/featurestories/detail/integrating-traditional-medicin
